"Anakmu bukanlah milikmu. Mereka putera puteri sang Hidup yg rindu pada diri sendiri. Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau. Mereka ada padamu, tapi bukan kepunyaanmu.
Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu, sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri. Patut kau berikan rumah untuk raganya, tapi tidak untuk jiwanya. Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat kau kunjungi sekalipun dalam mimpi.
Engkau boleh berusaha menyerupai mereka, namun jangan membuat mereka menyerupaimu. Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur, tidak juga tenggelam di masa lampau.
Kau adalah busur, dan anak-anakmulah anak panah yang meluncur. Sang Pemanah Maha tahu sasaran bidik keabadian, dia merentangkan dengan kekuasaan-Nya, hingga anak panah itu melesat,
jauh serta cepat..........."
(Kahlil Gibran: The Prophet)
Thursday, April 26, 2007
Saturday, April 14, 2007
DAN BINTANG-BINTANGPUN AKHIRNYA MAU TERSENYUM JUGA BAG. 4
Hari yang membahagiakan itu datang juga....
Mama dan Om Her akhirnya menikah. Semalaman aku tidak bisa tidur, tak sabar menunggu hari esok. Hari dimana OM Her akan menjadi papaku. Terima kasih Ya Alloh, Akhirnya engkau memberikan aku seorang papa.
Ada yang aneh dalam pernikahan itu. Mama dan Om Her tidak menandatangani buku nikah. Tepatnya, tidak ada buku nikah sama sekali! Apakah mereka menikah siri? My God! Sayangnya aku terlalu berbahagia sehingga tidak mau memikirkan masalah itu. Saat itu yang ada dalam fikiranku hanyalah 'aku punya papa!'
Setelah pernikahan itu, setiap berangkat ke sekolah, aku selalu mencium tangan papa. Biasanya cuma mama yg aku cium tangannya. Dan akupun berangkat sekolah dengan hati riang. Seakan ingin kukatakan pada dunia, "lihat sekarang aku lengkap! aku sudah punya papa!'
Tapi....
Lama kelamaan, sosok papa di rumah sering jarang terlihat. Setiap aku tanya mama, kemana papa berhari-hari tidak pulang, mama selalu bilang keluar kota. Sekali dua kali, aku masih percaya dengan jawaban mama. Tapi apa iya dalam sebulan papa lebih banyak keluar kota dari pada di rumah? Sayangnya, pertanyaan-pertanyaan itu hanya aku simpan dalam hati saja. Seakan-akan pertanyaan itu hanya akan merenggut kebahagiaanku dan mama.
Sampai akhirnya, dua bulan setelah pernikahan itu, 3 orang perempuan datang ke rumahku, yang rupanya seorang ibu dan dua orang anaknya. Ibu gemuk itu menwgedor-gedor pintu rumahku, sementara 2 orang anaknya berteriak-teriak memanggil nama mama, menyuruh segera keluar.
Aku dan mama berlari keluar dengan tergopoh-gopoh.
"Heh! Elu yang namanya Yenny?" Kata si ibu gemuk sambil melotot.
"Iya, bu Dian" Kata mama dengan tenang. Aku heran mama bisa setenang itu, dan kok kenal sama ibu galak itu. Mama memasang jari telunjuk di depan mulutnya, ketika melihat aku mau angkat bicara. Akupun diam.
"lhooo.... elu kok bisa tau nama gue?" Sergah ibu gemuk itu. "Berarti lu tau gue ini siapa?!"
"Iya bu Dian, saya tau siapa ibu"
"Kalo elu udah tau, kenapa lu tetep kawin sama laki gue?!"
Ya Alloh, bagai tersambar petir aku mendengarnya. Jadi benar dugaanku selama ini. Mamaku hanya istri kedua, yang dinikahi secara siri, tanpa sepengetahuan istri pertama. Ya Alloh.... air mataku akhirnya menetes.
Keadaan semakin ramai. Mama dikerubuti oleh 3 orang perempuan yang sibuk berteriak-teriak mengeluarkan seisi kebun binatang dari mulutnya. Mama kebanyakan diam. Hanya sekali-kali bicara, mencoba menenangkan ketiga perempuan yang sedang marah itu. Tetangga makin banyak yang menonton acara gratis di petang hari Minggu itu.
Karena tidak tahan melihat mamaku dikata-katai habis-habisan tanpa melawan sedikitpun, aku pun bertindak, aku berteriak lebih keras dari mereka bertiga.
"Diam kalian semua!!!!"
Ternyata manjur, semua tiba-tiba diam.
"Dengar kalian bertiga. Jangan cuma bisa menyalahkan mama saya atas apapun yang terjadi di rumah kalian! Tanya diri kalian sendiri, kenapa suami atau papa kalian tercinta itu bisa memilih mama saya. Pasti kalian tidak bisa membahagiakan dia, sehingga dia mencari kebahagiaan di rumah kami. Cepat pergi dari sini, kecuali urat malu kalian sudah putus!!!"
Aku seret mama ke dalam rumah. setelah mengunci pintu, kami masuk ke kamar mama, yang aku kunci juga. Di atas tempat tidur mama, aku terdiam. Teriakan-teriakan masih terdengar. Bahkan terakhir sebelum teriakan itu menghilang, aku dengar suara kaca pecah dilempar sesuatu.
Suasana kemudian tenang. Pasti ketiga perempuan itu sudah pergi. Tinggal isak tangisku yang terdengar. Mama memelukku, menangis juga. Minta maaf kepadaku, karena selama ini tidak jujur. Sudahlah... semua sudah terjadi. Kupeluk mama erat-erat.
Malamnya papa datang. Wajahnya terlihat begitu tegang. Dari dalam kamar aku mendengar mereka bertengkar. Aku mengurung diri di dalam kamar, mencoba untuk pura-pura tidak mendengar keributan mereka. Tiba-tiba aku dengar mama berteriak. Diikuti dengan suara pintu dibanting. Tidak lama kemudian terdengar suara mobil papa pergi. Aku berlari menuju kamar mama. Kulihat mama terpuruk di dekat tempat tidur. Ya Alloh.... hidung mama berdarah. Kurang ajar!!!! Laki-laki itu memukul mamaku.
Aku telepon Hp papa, berkali-kali teleponku direject. Mama berusaha merebut horn telepon, mencegah aku agar tidak menelepon papa. Akhirnya aku cuma bisa menangis sambil memeluk mama.
Malam itu aku tidur di kamar mama. Banyak yang mama ceritakan. Dan yang paling aku ingat adalah kata-kata : 'Mama sudah tidak peduli dengan cinta. Cinta mama hanya untuk kamu. Dan Mama akan melakukan apapun agar masa depanmu terjamin'
What? Semalaman aku mencerna kata-kata itu. Berkali-kali kutepis fikiran negatif yang menghinggapiku. Mama... kenapa aku membuatmu jadi tidak punya harga diri? But, what can I do? Aku tidak sanggup membela harga diri mama. Aku tidak punya apa-apa. Satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah, berjanji, suatu ketika aku akan membahagiakan mama.
Nah.... abis kejadian itu, papa tambah jarang pulang, dan tiap pulang mesti marah-marah terus. Bahkan mulai sering ringan tangan. Tapi mama selalu menghalangiku untuk berbuat apapun. 'Ingat masa depan kamu! Itu yang lebih penting!' Kata mama selalu.
Yah... begitulah ceritanya kenapa Shayen yang periang akhirnya berubah menjadi Shayen yang pemurung dan pemarah. Aku tidak pernah lagi mencium tangan papa dan sebisa mungkin tidak bertemu atau bicara dengannya. Aku mulai belajar untuk mendengar kata-kata hinaan dari mulutnya, tanpa berbuat apapun. Just like what my mom did......
Aku akan membalasnya, Ma....
Mama dan Om Her akhirnya menikah. Semalaman aku tidak bisa tidur, tak sabar menunggu hari esok. Hari dimana OM Her akan menjadi papaku. Terima kasih Ya Alloh, Akhirnya engkau memberikan aku seorang papa.
Ada yang aneh dalam pernikahan itu. Mama dan Om Her tidak menandatangani buku nikah. Tepatnya, tidak ada buku nikah sama sekali! Apakah mereka menikah siri? My God! Sayangnya aku terlalu berbahagia sehingga tidak mau memikirkan masalah itu. Saat itu yang ada dalam fikiranku hanyalah 'aku punya papa!'
Setelah pernikahan itu, setiap berangkat ke sekolah, aku selalu mencium tangan papa. Biasanya cuma mama yg aku cium tangannya. Dan akupun berangkat sekolah dengan hati riang. Seakan ingin kukatakan pada dunia, "lihat sekarang aku lengkap! aku sudah punya papa!'
Tapi....
Lama kelamaan, sosok papa di rumah sering jarang terlihat. Setiap aku tanya mama, kemana papa berhari-hari tidak pulang, mama selalu bilang keluar kota. Sekali dua kali, aku masih percaya dengan jawaban mama. Tapi apa iya dalam sebulan papa lebih banyak keluar kota dari pada di rumah? Sayangnya, pertanyaan-pertanyaan itu hanya aku simpan dalam hati saja. Seakan-akan pertanyaan itu hanya akan merenggut kebahagiaanku dan mama.
Sampai akhirnya, dua bulan setelah pernikahan itu, 3 orang perempuan datang ke rumahku, yang rupanya seorang ibu dan dua orang anaknya. Ibu gemuk itu menwgedor-gedor pintu rumahku, sementara 2 orang anaknya berteriak-teriak memanggil nama mama, menyuruh segera keluar.
Aku dan mama berlari keluar dengan tergopoh-gopoh.
"Heh! Elu yang namanya Yenny?" Kata si ibu gemuk sambil melotot.
"Iya, bu Dian" Kata mama dengan tenang. Aku heran mama bisa setenang itu, dan kok kenal sama ibu galak itu. Mama memasang jari telunjuk di depan mulutnya, ketika melihat aku mau angkat bicara. Akupun diam.
"lhooo.... elu kok bisa tau nama gue?" Sergah ibu gemuk itu. "Berarti lu tau gue ini siapa?!"
"Iya bu Dian, saya tau siapa ibu"
"Kalo elu udah tau, kenapa lu tetep kawin sama laki gue?!"
Ya Alloh, bagai tersambar petir aku mendengarnya. Jadi benar dugaanku selama ini. Mamaku hanya istri kedua, yang dinikahi secara siri, tanpa sepengetahuan istri pertama. Ya Alloh.... air mataku akhirnya menetes.
Keadaan semakin ramai. Mama dikerubuti oleh 3 orang perempuan yang sibuk berteriak-teriak mengeluarkan seisi kebun binatang dari mulutnya. Mama kebanyakan diam. Hanya sekali-kali bicara, mencoba menenangkan ketiga perempuan yang sedang marah itu. Tetangga makin banyak yang menonton acara gratis di petang hari Minggu itu.
Karena tidak tahan melihat mamaku dikata-katai habis-habisan tanpa melawan sedikitpun, aku pun bertindak, aku berteriak lebih keras dari mereka bertiga.
"Diam kalian semua!!!!"
Ternyata manjur, semua tiba-tiba diam.
"Dengar kalian bertiga. Jangan cuma bisa menyalahkan mama saya atas apapun yang terjadi di rumah kalian! Tanya diri kalian sendiri, kenapa suami atau papa kalian tercinta itu bisa memilih mama saya. Pasti kalian tidak bisa membahagiakan dia, sehingga dia mencari kebahagiaan di rumah kami. Cepat pergi dari sini, kecuali urat malu kalian sudah putus!!!"
Aku seret mama ke dalam rumah. setelah mengunci pintu, kami masuk ke kamar mama, yang aku kunci juga. Di atas tempat tidur mama, aku terdiam. Teriakan-teriakan masih terdengar. Bahkan terakhir sebelum teriakan itu menghilang, aku dengar suara kaca pecah dilempar sesuatu.
Suasana kemudian tenang. Pasti ketiga perempuan itu sudah pergi. Tinggal isak tangisku yang terdengar. Mama memelukku, menangis juga. Minta maaf kepadaku, karena selama ini tidak jujur. Sudahlah... semua sudah terjadi. Kupeluk mama erat-erat.
Malamnya papa datang. Wajahnya terlihat begitu tegang. Dari dalam kamar aku mendengar mereka bertengkar. Aku mengurung diri di dalam kamar, mencoba untuk pura-pura tidak mendengar keributan mereka. Tiba-tiba aku dengar mama berteriak. Diikuti dengan suara pintu dibanting. Tidak lama kemudian terdengar suara mobil papa pergi. Aku berlari menuju kamar mama. Kulihat mama terpuruk di dekat tempat tidur. Ya Alloh.... hidung mama berdarah. Kurang ajar!!!! Laki-laki itu memukul mamaku.
Aku telepon Hp papa, berkali-kali teleponku direject. Mama berusaha merebut horn telepon, mencegah aku agar tidak menelepon papa. Akhirnya aku cuma bisa menangis sambil memeluk mama.
Malam itu aku tidur di kamar mama. Banyak yang mama ceritakan. Dan yang paling aku ingat adalah kata-kata : 'Mama sudah tidak peduli dengan cinta. Cinta mama hanya untuk kamu. Dan Mama akan melakukan apapun agar masa depanmu terjamin'
What? Semalaman aku mencerna kata-kata itu. Berkali-kali kutepis fikiran negatif yang menghinggapiku. Mama... kenapa aku membuatmu jadi tidak punya harga diri? But, what can I do? Aku tidak sanggup membela harga diri mama. Aku tidak punya apa-apa. Satu-satunya yang bisa aku lakukan adalah, berjanji, suatu ketika aku akan membahagiakan mama.
Nah.... abis kejadian itu, papa tambah jarang pulang, dan tiap pulang mesti marah-marah terus. Bahkan mulai sering ringan tangan. Tapi mama selalu menghalangiku untuk berbuat apapun. 'Ingat masa depan kamu! Itu yang lebih penting!' Kata mama selalu.
Yah... begitulah ceritanya kenapa Shayen yang periang akhirnya berubah menjadi Shayen yang pemurung dan pemarah. Aku tidak pernah lagi mencium tangan papa dan sebisa mungkin tidak bertemu atau bicara dengannya. Aku mulai belajar untuk mendengar kata-kata hinaan dari mulutnya, tanpa berbuat apapun. Just like what my mom did......
Aku akan membalasnya, Ma....
Saturday, March 03, 2007
Sesaat Yang Begitu Berharga
Sekitar akhir Desember 2006, aku mendatangi seorang dokter kandungan untuk mengecek apakah ada masalah dengan kandunganku, mengingat aku belum juga dikaruniai keturunan. Waktu itu dokter bilang tidak ada masalah dengan kandunganku. Dan beliau menyarankan agar aku test TORCH di lab. Dokter juga memberikan vitamin dan obat lainnya (intinya untuk menyuburkan kandungan).
Awal Januari 2007, aku membawa hasil test lab itu ke dokter tadi. Alangkah kagetnya aku ketika dokter mengatakan bahwa aku terserang CMV. Dan dokter menyarankan agar aku menunda kehamilan selama 3 bulan untuk menjalani terapi.
Sayangnya....
Kukatakan pada dokter bahwa aku sudah telat datang bulan hampir 1 bulan. Dokter akhirnya memeriksaku. Dari hasil USG terlihat bahwa ada janin dalam rahimku.
Berhari-hari aku menangis. Bukan tangis bahagia, tapi tangisan penyesalan dan rasa bersalah. Aku takut jika bayiku kelak menjadi cacat karena keteledoranku.
Tapi aku ingat dokter bilang ada jalan keluarnya. Aku tetap bisa menyelamatkan janinku, asal aku menjaga pola makan. Aku tidak boleh makan makanan yang mengandung MSG, makanan-makanan yang dibakar (misalnya sate), makan makanan setengah matang atau mentah (seperti lalapan). Dokter juga memberikanku vitamin dan stimuno untuk menjaga kekebalan tubuh. Selain itu dokter juga menyarankan agar aku tidak terlalu banyak fikiran (nah.. ini yang susah).
Akhirnya, setiap hari aku berusaha untuk memasak makanan sendiri. Kuhindari beli makanan di luar, kuhindari cemilan-cemilan yang tidak sehat dan kuhindari minuman bersoda. Aku juga memaksakan diri untuk minum susu pagi dan malam. Padahal biasanya aku paling ogah minum susu.
Aku memeriksakan kandunganku dengan teratur ke dokter. Setiap dokter memberikan foto hasil USG padaku, kupandangi sering-sering foto itu dengan perasaan bahagia. Sering kuelus perutku sambil berkata dalam hati "Kamu harus sabar ya, nak. Kita pasti bisa melewati semua ini..."
Tanggal 29 Januari 2007, atas anjuran dokter, aku kembali memeriksakan diri ke lab. Alhamdulillah.... Apa yang selama ini aku lakukan membuahkan hasil. CMV yang bersarang di tubuhku sudah negatif. Aku sehat.... bebas CMV....!!!!
Sayangnya.....
Setiap memandangi hasil USG yang dokter berikan kepadaku, aku selalu bertanya-tanya, 'kenapa janin-ku perkembangannya lambat?' Pada saat usia kandunganku 9 minggu, besar janinku masih seperti janin 6 minggu. Aku berusaha keras menepis kekhawatiranku. "Sabar ya, nak.... Kita pasti bisa melewati semua ini..."
Tanggal 12 Februari 2007, akhirnya aku harus masuk rumah sakit. BED REST. Karena ada Flex keluar sekitar 4 harian. "Sabar ya, nak... Kita pasti melewati semua ini..." berulang-ulang kukatakan sambil mengelus-elus perutku. Tapi terus terang harapanku kecil. Entah kenapa, aku merasa, 'dia' tidak akan bisa kupertahankan.
Akhirnya tanggal 14 Februari 2007, aku keguguran. Sekitar jam 3 dini hari, di dalam toilet, janinku keluar. Sambil menangis aku mengumpulkan sisa-sisa jaringan apa saja yang bisa aku selamatkan. Jam 06.30, aku kembali di USG dan kantung kehamilan memang sudah pecah. Derai airmata mengiringiku sampai akhirnya aku tidak sadarkan diri karena pengaruh obat bius sebelum proses kuret dilakukan.
Setelah pulang dari rumah sakit, suamiku bilang, kata dokter, bisa jadi janinku sudah terlanjur terinfeksi CMV, atau bibitnya memang kurang baik, sehingga perkembangannya kurang bagus. Dan jika 'dia' bertahan, bayiku akan cacat berat ketika dilahirkan. Jadi mungkin ini memang jalan terbaik yang ALLAH berikan untukku....
Setelah semuanya berakhir, aku sering melamun sendiri. Dan tak jarang tersenyum sambil menahan tangis. Indah sekali apa yang telah terjadi dalam 11 minggu kemarin. Bagaimana seorang lisa berjuang untuk sesuatu yang sangat berharga, ANAK! Lisa yang pemalas, rela masak setiap hari demi untuk mendapatkan makanan bersih dan bebas MSG, mau minum susu, dan rela di suntik!!! Sekarang aku jadi paham, mengapa anak begitu berharga. Karena setiap orang tua, rela melakukan apasaja untuk mendapatkannya.
Selamat jalan buah hatiku....
Sesaat kehadiranmu membuat hidupku terasa begitu berharga....
Thursday, December 28, 2006
Malu Bertanya Sesat Di Rumah Sakit
Malu bertanya sesat di jalan, pepatah yang sudah sangat sering kita dengar. Dan repotnya, sering kali pepatah tinggal pepatah jika kita tidak kepentok mengalaminya sendiri.
Ceritanya, suatu hari aku berniat menjenguk teman yang sedang sakit. Malam sebelumnya aku sudah sms dia yang kurang lebih isinya begini : "Besok operasinya jam berapa, mbak? Di ruang apa?"
Sms-ku dibalas dengan kalimat seperti ini: "operasi jam 10:30. Di ruang Cendrawasih 108"
Tidak ada yang salah dengan sms yang temanku kirim, karena dia menjawab semua pertanyaanku.
Yang salah adalah.....
Keesokan harinya dengan PD-nya aku datang ke RS. Bethesda. Dengan ramah, pak satpam yang sedang bertugas bertanya. "Mau ke mana, mbak?"
Ku jawab sambil tersenyum "Ruang Cendrawasih 108 sebelah mana, pak?"
Sang satpam mengerutkan kening "Di sini gak ada ruang Cendrawasih, mbak. Di sini ruangannya pakai nama bunga."
Astaganaga... "Masa sih, pak?"
Akhirnya aku telp temanku (sambil agak-agak gak enak gitu deh.. hihi...), "Mbak kamu di rawat dimana?"
"Sardjito". Begitu jawabnya.
"oh... ok.. aku meluncur kesana ya, mbak...." kataku sambil nyengir.
Setelah mengucapkan kata maaf dan terima kasih pada pak satpam, akupun ngacir menuju RS. Sardjito. Kikikikiiiiii.....
Abis biasanya, temanku itu jika berobat ke RS. Bethesda. Jadi kupikir pasti dia dirawat di sana. Ternyata... sotoy lu ah.... HAHAHAHAAAAA.....
Saturday, December 23, 2006
DAN BINTANG-BINTANGPUN AKHIRNYA MAU TERSENYUM JUGA BAG 3
Suatu hari, mama pulang bersama seorang lelaki parlente. Tak bisa kupungkiri, kedatangannya membuatku agak sedikit tidak nyaman. Lelaki inilah yang selama ini dekat dengan mama.
Lelaki itu menjabat tanganku dengan hangat sambil tersenyum.
”Hermawan.” katanya ”Ini pasti Shayen.”
Aku mengangguk kaku.
”Sayang, ayo ajak om Her makan.” kata Mama sambil memeluk pundakku.
Jadilah malam itu kami makan malam bertiga. Kami duduk di meja makan yang taplaknya sudah diganti oleh mama tadi pagi. Untuk Om Her yang datang kerumah kami dengan BMW-nya, makan malam ini pasti biasa-biasa saja. Tapi untukku dan mama, ini makan malam yang luar biasa. Mama mempersiapkannya dengan sebaik mungkin dan semewah mungkin (catatan: mewah menurut aku dan mama).
Belum habis makanan di piring kami masing-masing, aku sudah mulai merasa kebekuan yang melingkupiku atas kehadiran orang baru ini, akhirnya mencair . Aku yang tadinya diam saja, lama-lama jadi tidak ragu lagi untuk ikut bicara, bahkan bercanda. Om Her begitu baik dan menyenangkan. Aku tidak ragu lagi mengatakan, aku suka pada lelaki ini
Kira-kira jam 9 malam, Om Her pulang. Usapan jemari-nya di rambutku, ketika ia berpamitan, begitu menyejukkan. Seperti menemukan sesuatu yang hilang, betapa bahagianya aku malam itu.
Sebelum tidur aku berdo’a pada Allah, semoga suatu ketika aku bisa memanggilnya ’Papa’. Ya Allah... Ijinkanlah aku untuk memiliki seorang Papa. Dan aku yakin, Om Her lelaki yang tepat untuk Mama.
Benarkah Om Her lelaki yang tepat untuk Mama? Tambah males deh nyeritainnya... Kapan-kapan aja deh, aku ceritain lagi. Maleeessss... hhhhh
Lelaki itu menjabat tanganku dengan hangat sambil tersenyum.
”Hermawan.” katanya ”Ini pasti Shayen.”
Aku mengangguk kaku.
”Sayang, ayo ajak om Her makan.” kata Mama sambil memeluk pundakku.
Jadilah malam itu kami makan malam bertiga. Kami duduk di meja makan yang taplaknya sudah diganti oleh mama tadi pagi. Untuk Om Her yang datang kerumah kami dengan BMW-nya, makan malam ini pasti biasa-biasa saja. Tapi untukku dan mama, ini makan malam yang luar biasa. Mama mempersiapkannya dengan sebaik mungkin dan semewah mungkin (catatan: mewah menurut aku dan mama).
Belum habis makanan di piring kami masing-masing, aku sudah mulai merasa kebekuan yang melingkupiku atas kehadiran orang baru ini, akhirnya mencair . Aku yang tadinya diam saja, lama-lama jadi tidak ragu lagi untuk ikut bicara, bahkan bercanda. Om Her begitu baik dan menyenangkan. Aku tidak ragu lagi mengatakan, aku suka pada lelaki ini
Kira-kira jam 9 malam, Om Her pulang. Usapan jemari-nya di rambutku, ketika ia berpamitan, begitu menyejukkan. Seperti menemukan sesuatu yang hilang, betapa bahagianya aku malam itu.
Sebelum tidur aku berdo’a pada Allah, semoga suatu ketika aku bisa memanggilnya ’Papa’. Ya Allah... Ijinkanlah aku untuk memiliki seorang Papa. Dan aku yakin, Om Her lelaki yang tepat untuk Mama.
Benarkah Om Her lelaki yang tepat untuk Mama? Tambah males deh nyeritainnya... Kapan-kapan aja deh, aku ceritain lagi. Maleeessss... hhhhh
Saturday, December 16, 2006
CRAZY BOUT NEW JAMES BOND
CASINO ROYALE ACTS LIKE THE OTHER BOND MOVIES NEVER EXISTEDSetuju banget...
Selain bintangnya baru (Daniel Craig), James Bond Casino Royale juga menampilkan nuansa berbeda. Agent 007 yang terkenal flamboyan dan tergila-gila teknologi, berubah menjadi laki-laki tangguh yang banyak menggunakan kekuatan fisik. Sehingga baru beberapa menit film mulai, pesona Daniel Craig terasa membius dan bikin jatuh cinta seketika..... (padahal nontonnya bareng suami ... kikikikii).
Casino Royale adalah judul novel James Bond pertama karangan Ian Fleming. Mengisahkan tentang awal karir James Bond sebagai agent rahasia dengan sandi 007. Film besutan sutradara Martin Campbell ini bersetting di Praha, Madagascar, London, Bahama dan berakhir dengan tragis di Venice. Di Venice ini, James Bond menemukan cinta-nya. Namun di sana juga ia dikhianati cinta-nya. Inilah salah satu alasan mengapa James Bond akhirnya tidak pernah mempercayai siapapun.
Aku udah nonton film ini 2 kali. Hampir aja jadi 3 kali sebelum akhirnya aku mengingatkan diriku sendiri bahwa nonton di TWENTY ONE itu mahal. Hiks...
Ya sudah, Daniel Craig paling tidak membuktikan bahwa kalimat 'don't judge a book by its cover' memang nyata adanya. Pada awalnya banyak yang mengatakan Daniel Craig tidak cocok menjadi new James Bond (i'm one of them), karena sosoknya yang dianggap tidak mewakili karakter James Bond. But he proved that it's wrong, and here he is... new fascinating James Bond....
(Sebenernya nulis ini udah lama. Tapi mindahinnya ke blog baru sempet sekarang... remember.. more works, less time...whew...)
Tuesday, November 28, 2006
JIKA SUATU SAAT NANTI....
Lagi-lagi aku teringat pada gadis kecil itu.....
Awalnya dia begitu malu-malu. Tapi lama kelamaan dia jadi sangat lucu dan menggemaskan. Wajahnya yang cantik selalu dihiasi senyum. Celotehannya terdengar selalu menggelitik.
Saat dia tertidur dipangkuan ayahnya, wajahnya terlihat begitu damai. Menandakan betapa bahagia hidupnya.
Ya Allah, jika suatu saat nanti kau karuniai aku anak-anak yang manis, mampukah aku membahagiakan mereka, mencukupi kebutuhan lahir maupun batin mereka?
Ya Allah, jika suatu ketika kau anggap aku sudah mampu, mohon kuatkan aku, agar aku dapat membahagiakan titipanMU dan Membimbing mereka di jalanMU. Amin.
Awalnya dia begitu malu-malu. Tapi lama kelamaan dia jadi sangat lucu dan menggemaskan. Wajahnya yang cantik selalu dihiasi senyum. Celotehannya terdengar selalu menggelitik.
Saat dia tertidur dipangkuan ayahnya, wajahnya terlihat begitu damai. Menandakan betapa bahagia hidupnya.
Ya Allah, jika suatu saat nanti kau karuniai aku anak-anak yang manis, mampukah aku membahagiakan mereka, mencukupi kebutuhan lahir maupun batin mereka?
Ya Allah, jika suatu ketika kau anggap aku sudah mampu, mohon kuatkan aku, agar aku dapat membahagiakan titipanMU dan Membimbing mereka di jalanMU. Amin.
NGE-BLOG ON BED. WHAT A....
5 hari tergeletak sakit. whew... what a hell...
Untung ada benda kecil hitam yang ternyata, setelah di explore, lumayan pintar juga. nyatanya aku bisa nge-blog dari atas tempat tidur berkat bantuannya. i talk bout my new nokia.
pasti banyak yang belum aku tau kepintaran apalagi yang bisa dia lakukan (secara gw gaptek bgt) but, ini sudah lumayan menghibur, bisa chatting, browsing n blogging on bed. whew...
Bahkan ketika tergeletak sakitpun aku masih memikirkan pekerjaan di kantor...
Tuhan, ini sangat menyiksaku...
Untung ada benda kecil hitam yang ternyata, setelah di explore, lumayan pintar juga. nyatanya aku bisa nge-blog dari atas tempat tidur berkat bantuannya. i talk bout my new nokia.
pasti banyak yang belum aku tau kepintaran apalagi yang bisa dia lakukan (secara gw gaptek bgt) but, ini sudah lumayan menghibur, bisa chatting, browsing n blogging on bed. whew...
Bahkan ketika tergeletak sakitpun aku masih memikirkan pekerjaan di kantor...
Tuhan, ini sangat menyiksaku...
I'M NOT A SUPERWOMAN
I don't wanna be a superwoman
I just wanna be tough to face 'it'
Only YOU can cure my pain
Can heal my wounds
And stop my sadness
Hasbunallahu wa ni'mal wakil
I just wanna be tough to face 'it'
Only YOU can cure my pain
Can heal my wounds
And stop my sadness
Hasbunallahu wa ni'mal wakil
Friday, November 17, 2006
MORE WORKS LESS TIME
Lama juga ya gak nulis blog. Gak ada ide sih. Padahal yang namanya ide, bisa muncul di mana aja dan kapan aja. Tapi... boro-boro punya ide buat di tulis di blog, waktu yang disediain di kantor aja kayaknya udah gak berbanding lurus lagi sama kerjaan yang harus dilakukan.
Aku mulai kerja jam 7.30 pagi, pulang kerja jam 4. 30 sore.... gak cukup buat nyelesain kerjaan hari itu juga. Akhirnya lembur jadi solusi. Sampe rumah udah teler, akhirnya tidur deh. Begitu terus tiap hari. Yang namanya kreatifitas, hampir-hampir gak ada lagi dalam keseharianku akhir-akhir ini.
Begitu hari libur tiba, harapanku aku bisa sedikit berkreasi dengan hidupku, sehingga warna hidupku sedikit berubah. Kenyataan yang terjadi malah hari libur aku buat untuk memanjakan diri alias tidak melakukan apa-apa sama sekali (kalau perlu mandipun gak usah deh... :))
Yah... kadang terfikir oleh ku, mungkin ini dampak dari banyaknya tugas yang harus aku kerjakan di kantor. Sehingga terbersit juga keinginan untuk berhenti kerja dan jadi ibu rumah tangga seutuhnya (hayyahhh...). Tapi, aku kembali ingat kenapa aku memilih menjadi wanita pekerja. Yaitu karena aku butuh aktualisasi diri. Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi jika aku tidak bekerja dan hanya di rumah mengurus urusan rumah tangga. Wah.... kayaknya sih boring ya...
Sementara ini jalanin aja deh apa yang ada di depan mata. Karena pada dasarnya, yang namanya hidup memang harus selalu berkembang. Begitu juga dengan pekerjaan, semakin hari harus semakin bertambah karena tanggung jawab juga bertambah (maksudnya karir kan kudu naik juga ya gak... :)). So, ya.. gitu deh...
Saturday, October 14, 2006
Dan Bintang-Bintangpun Akhirnya Mau Tersenyum Bag. 2
Rabu, Kamis, Jum'at, Sabtu....
Yup udah empat hari berturut-turut mas Angga nganter aku ke sekolah tiap pagi. Hari Sabtu ini malah pake acara jemput juga. Katanya sih hari ini dia gak ada kuliah. Lumayan....
Dan sekarang, jam 7 malem ini, dia udah nongkrong di beranda rumahku. Tapi kok sikapnya lain ya? Mas Angga yang biasanya cengengesan, sekarang jadi kaku dan keliatan banget nervous. Apa karena ini malam Minggu dan dia merasa ini acara ngapel pertama? Waduuuhhhh.... gawats!
"Mas!" tegurku
"Eh ya!" Mas Angga hampir lompat dari tempat duduknya. Busyet deh....
"Gitu aja kaget sih," Kataku sambil mengerutkan kening. "Emang suaraku kenceng banget ya"
"Eh... nggak... nggak kok..." lha... sekarang malah gelagepan
"Pasti Mas Angga bengong ya? Jangan bengong dong, Mas! Katanya tadi mau cerita-cerita. Mana ceritanya?"
Setelah garuk janggut beberapa kali (tambah gugup aja kayaknya), Mas Angga memulai ceritanya. Pelan banget dan susah payah banget...
"Gini, Shay... emm... maksudnya shayen... mmm... nggg... Mas mau bilang.. mmm... cuma mau bilang... ehh... mmm.... sebenernya... mmm.. Mas seneng banget bisa... mmm...ehh.. bisa nganter dan jemput kamu tiap hari... " Terus diam lama. Pake acara meremas-remas jari segala.
"Aku juga seneng kok mas Angga mau nganter aku ke sekolah. Apalagi pake jemput segala kayak tadi siang" Ya iya lah... jadi lebih cepet sampe rumah dan irit ongkos.
"Mmmmm.... senengnya beda, Shay... eh... shayen.."
"Beda?" Gawat!
"Iya, beda banget! Rasanya kayak nganter siapa gitu, deh."
Mendingan no comment kalo kayak gini.
"Ternyata kamu beda dari apa yang selama ini aku kira. Ternyata kamu baik banget dan nyenengin banget."
"Emang selama ini Mas Angga pikir aku kayak gimana sih?" Tanyaku sambil mengerutkan kening.
"Mmmm... tapi jangan marah ya..."
Aku mengangguk.
"Aku pikir kamu itu judes banget, lho. Sombong dan galak deh pokoknya. Makanya aku sama temen-temen kos sering ngegodain kamu. Ya jujur aja maksudnya emang cuma ngisengin. Abis... kayaknya kamu belagu banget. Mentang-mentang cantik..."
Gubrakkk!!
Tenang Shayen... Jangan emosi. Tadi kamu sendiri kan yang nyuruh dia ngoceh. Nah, terimalah....
Yah... harus aku akui, aku emang sombong, judes dan galak. Tapi bokap-ku lebih galak lagi. Dia faktor utama yang membuat aku berubah. Next time aku ceritain tentang bokap. Soalnya sekarang bener-bener gak sempet, karena keliatannya Mas Angga udah siap-siap meneruskan 'ceritanya' lagi.
"Mmmm... Shayen.... mmm maaf aku cuma pingin bilang... mmm.... kayaknya ... mmm... engg... aku jatuh cinta sama kamu."
Mateeee.... Plis deh, baru 4 hari...!
Yup udah empat hari berturut-turut mas Angga nganter aku ke sekolah tiap pagi. Hari Sabtu ini malah pake acara jemput juga. Katanya sih hari ini dia gak ada kuliah. Lumayan....
Dan sekarang, jam 7 malem ini, dia udah nongkrong di beranda rumahku. Tapi kok sikapnya lain ya? Mas Angga yang biasanya cengengesan, sekarang jadi kaku dan keliatan banget nervous. Apa karena ini malam Minggu dan dia merasa ini acara ngapel pertama? Waduuuhhhh.... gawats!
"Mas!" tegurku
"Eh ya!" Mas Angga hampir lompat dari tempat duduknya. Busyet deh....
"Gitu aja kaget sih," Kataku sambil mengerutkan kening. "Emang suaraku kenceng banget ya"
"Eh... nggak... nggak kok..." lha... sekarang malah gelagepan
"Pasti Mas Angga bengong ya? Jangan bengong dong, Mas! Katanya tadi mau cerita-cerita. Mana ceritanya?"
Setelah garuk janggut beberapa kali (tambah gugup aja kayaknya), Mas Angga memulai ceritanya. Pelan banget dan susah payah banget...
"Gini, Shay... emm... maksudnya shayen... mmm... nggg... Mas mau bilang.. mmm... cuma mau bilang... ehh... mmm.... sebenernya... mmm.. Mas seneng banget bisa... mmm...ehh.. bisa nganter dan jemput kamu tiap hari... " Terus diam lama. Pake acara meremas-remas jari segala.
"Aku juga seneng kok mas Angga mau nganter aku ke sekolah. Apalagi pake jemput segala kayak tadi siang" Ya iya lah... jadi lebih cepet sampe rumah dan irit ongkos.
"Mmmmm.... senengnya beda, Shay... eh... shayen.."
"Beda?" Gawat!
"Iya, beda banget! Rasanya kayak nganter siapa gitu, deh."
Mendingan no comment kalo kayak gini.
"Ternyata kamu beda dari apa yang selama ini aku kira. Ternyata kamu baik banget dan nyenengin banget."
"Emang selama ini Mas Angga pikir aku kayak gimana sih?" Tanyaku sambil mengerutkan kening.
"Mmmm... tapi jangan marah ya..."
Aku mengangguk.
"Aku pikir kamu itu judes banget, lho. Sombong dan galak deh pokoknya. Makanya aku sama temen-temen kos sering ngegodain kamu. Ya jujur aja maksudnya emang cuma ngisengin. Abis... kayaknya kamu belagu banget. Mentang-mentang cantik..."
Gubrakkk!!
Tenang Shayen... Jangan emosi. Tadi kamu sendiri kan yang nyuruh dia ngoceh. Nah, terimalah....
Yah... harus aku akui, aku emang sombong, judes dan galak. Tapi bokap-ku lebih galak lagi. Dia faktor utama yang membuat aku berubah. Next time aku ceritain tentang bokap. Soalnya sekarang bener-bener gak sempet, karena keliatannya Mas Angga udah siap-siap meneruskan 'ceritanya' lagi.
"Mmmm... Shayen.... mmm maaf aku cuma pingin bilang... mmm.... kayaknya ... mmm... engg... aku jatuh cinta sama kamu."
Mateeee.... Plis deh, baru 4 hari...!
Tuesday, September 12, 2006
Dan Bintang-Bintangpun Akhirnya Mau Tersenyum Bag 1
"Pagi Shayen..."
"Berangkat sekolah ya..."
"Bareng yuk..."
Begitu terus tiap pagi. Tapi mas-mas ganteng itu cuma senang menggoda. Mereka tidak pernah benar-benar mau ngajak bareng. Padahal kalo mereka emang bener-bener mau nganter aku ke sekolah... lumayan kan. Irit ongkos bis!
Sampai kapan mereka begitu terus. Bagaimana caranya supaya mereka tau kalau aku muak dengan godaan mereka. Maksudnya aku muak kalo mereka cuma menggoda doang. Ajak nebeng beneran kek! Heran deh.
Aku harus melakukan sesuatu. HARUS!
Aku berbalik. Ku datangi kos putra yang barusan aku lewati. Ada 4 cowok di situ. Yang 2 sedang duduk sambil ngerokok, yang 2 lagi sibuk memanaskan motor.
"Hoeiii... mas...! Mas yang motornya warna biru!" Aku bertolak pinggang di hadapan mereka.
Semua bengong. Kaget melihat aku, yang biasanya berlalu dengan cuek, berbalik mendatangi mereka.
"Eh.... dik Shayen..." Cowok yang aku panggil berkata setelah kagetnya hilang " Ada perlu sama, mas?"
Langsung riuh..... Suit-suit pun berkumandang.
"Tadi aku denger, mas mau ngajak aku bareng berangkat ke sekolah." Kataku menantang. "Bisa buktiin gak?"
Tambah riuh....
"Gileeeee!!!"
"Ayo sikat brur!!!!!"
"Suit.... suiiiiiiiiiiiittttt...!"
Sementara yang aku ajak bicara malah ternganga.
"Beneran nih?" Tanyanya sambil melotot.
Aku membentangkan telapak tangan kananku.
"DEAL!" Teriaknya "Yos, pinjem helm!"
"Beres!" yang dipanggil Yos melempar helm.....
Jadilah hari itu aku dianter ke sekolah naik motornya Mas Angga. Ternyata dia seneng banget bisa nganter aku kesekolah.
Kenapa begitu?? Kapan-kapan aku terusin lagi ceritanya ya... hehe...
"Berangkat sekolah ya..."
"Bareng yuk..."
Begitu terus tiap pagi. Tapi mas-mas ganteng itu cuma senang menggoda. Mereka tidak pernah benar-benar mau ngajak bareng. Padahal kalo mereka emang bener-bener mau nganter aku ke sekolah... lumayan kan. Irit ongkos bis!
Sampai kapan mereka begitu terus. Bagaimana caranya supaya mereka tau kalau aku muak dengan godaan mereka. Maksudnya aku muak kalo mereka cuma menggoda doang. Ajak nebeng beneran kek! Heran deh.
Aku harus melakukan sesuatu. HARUS!
Aku berbalik. Ku datangi kos putra yang barusan aku lewati. Ada 4 cowok di situ. Yang 2 sedang duduk sambil ngerokok, yang 2 lagi sibuk memanaskan motor.
"Hoeiii... mas...! Mas yang motornya warna biru!" Aku bertolak pinggang di hadapan mereka.
Semua bengong. Kaget melihat aku, yang biasanya berlalu dengan cuek, berbalik mendatangi mereka.
"Eh.... dik Shayen..." Cowok yang aku panggil berkata setelah kagetnya hilang " Ada perlu sama, mas?"
Langsung riuh..... Suit-suit pun berkumandang.
"Tadi aku denger, mas mau ngajak aku bareng berangkat ke sekolah." Kataku menantang. "Bisa buktiin gak?"
Tambah riuh....
"Gileeeee!!!"
"Ayo sikat brur!!!!!"
"Suit.... suiiiiiiiiiiiittttt...!"
Sementara yang aku ajak bicara malah ternganga.
"Beneran nih?" Tanyanya sambil melotot.
Aku membentangkan telapak tangan kananku.
"DEAL!" Teriaknya "Yos, pinjem helm!"
"Beres!" yang dipanggil Yos melempar helm.....
Jadilah hari itu aku dianter ke sekolah naik motornya Mas Angga. Ternyata dia seneng banget bisa nganter aku kesekolah.
Kenapa begitu?? Kapan-kapan aku terusin lagi ceritanya ya... hehe...
Dua kali ngecat, dua kali gagal
Heran deh....
Bulan kemaren gw cat lagi rambut gw, merah lagi bo! Berhubung warna yg sebelumnya merah burgundi gitu, gw niat ganti warna jadi RED. Absolutely red. Harapan gw, begitu selesai di keramas, berubahlah gw jadi lady in red...
But...
Bolak balik gw sisir rambut gw, yg ada rambut gw malah keliatan item.... hiks...
Trus.. setelah mengumpulkan duit lagi, kemaren gw ke salon. Gw highlight rambut gw. but berhubung gw kerja, gw gak berani nge-highlight dengan warna yg terlalu terang (takut di komplen boss hehe). Akhirnya gw pilih warna red brown. Intinya sih lebih terang dikit dr warna rambut gw skrg.
But...
Pulang dari salon (kebeneran salonnya deket kantor), gw langsung ngelenggang di depan temen-temen yang masih ngantor. Komentar mereka apa coba???? "baru potong ya?" .... "Poni-nya baru ya?".... No body realized that i change my hair colour.... hiks.... hiks... huaaaa.......
Udah gitu, laki gw cuma ketawa senang.... ngerasa menang kali ye.... hiks...
Apa warna merah emang susah ditimpa warna lain ya? Jadi bingung.... Tapi gw gak putus asa kok. Bulan depan gw highlight lagi, pake warna yg bener-bener ngejreng... Kalo sampe gagal lagi.... gw bleaching aja deh rambut gw... (whew...)
Bulan kemaren gw cat lagi rambut gw, merah lagi bo! Berhubung warna yg sebelumnya merah burgundi gitu, gw niat ganti warna jadi RED. Absolutely red. Harapan gw, begitu selesai di keramas, berubahlah gw jadi lady in red...
But...
Bolak balik gw sisir rambut gw, yg ada rambut gw malah keliatan item.... hiks...
Trus.. setelah mengumpulkan duit lagi, kemaren gw ke salon. Gw highlight rambut gw. but berhubung gw kerja, gw gak berani nge-highlight dengan warna yg terlalu terang (takut di komplen boss hehe). Akhirnya gw pilih warna red brown. Intinya sih lebih terang dikit dr warna rambut gw skrg.
But...
Pulang dari salon (kebeneran salonnya deket kantor), gw langsung ngelenggang di depan temen-temen yang masih ngantor. Komentar mereka apa coba???? "baru potong ya?" .... "Poni-nya baru ya?".... No body realized that i change my hair colour.... hiks.... hiks... huaaaa.......
Udah gitu, laki gw cuma ketawa senang.... ngerasa menang kali ye.... hiks...
Apa warna merah emang susah ditimpa warna lain ya? Jadi bingung.... Tapi gw gak putus asa kok. Bulan depan gw highlight lagi, pake warna yg bener-bener ngejreng... Kalo sampe gagal lagi.... gw bleaching aja deh rambut gw... (whew...)
Tuesday, September 05, 2006
BeTe berkepanjangan = WOUND
BeTe menyerang and nothing can't cure the wound...
Iya nih... tiba-tiba berasa BeTe banget. Dan gw paling benci kalo BeTe dateng, tapi gw gak tau apa penyebabnya. Dan gw selalu menganggap ini luka, krn BeTe model gini bikin gw gak produktif dan sibuk ngasianin diri sendiri.
Ada banyak ide berkembang di kepala gw, tapi gw males ngeluarinnya. Sekedar untuk beranjak dari tempat tidur dan mengambil Donald Bebek kesayanganku aja malesnya bukan main. Ada banyak hal yang gw rencanakan untuk gw kerjakan. Tapi nyatanya waktu lewat begitu saja tanpa ada yang gw kerjakan. Sampai akhirnya cuma bisa menyesal.....
Nulis Blog!
YEP!! Akhirnya gw nulis blog. Harus ada yg gw lakukan! Dan gw memilih nulis blog sebagai awal penyembuhan BeTe gw. BeTe kayak gini harus segera disingkirkan!
Iya nih... tiba-tiba berasa BeTe banget. Dan gw paling benci kalo BeTe dateng, tapi gw gak tau apa penyebabnya. Dan gw selalu menganggap ini luka, krn BeTe model gini bikin gw gak produktif dan sibuk ngasianin diri sendiri.
Ada banyak ide berkembang di kepala gw, tapi gw males ngeluarinnya. Sekedar untuk beranjak dari tempat tidur dan mengambil Donald Bebek kesayanganku aja malesnya bukan main. Ada banyak hal yang gw rencanakan untuk gw kerjakan. Tapi nyatanya waktu lewat begitu saja tanpa ada yang gw kerjakan. Sampai akhirnya cuma bisa menyesal.....
Nulis Blog!
YEP!! Akhirnya gw nulis blog. Harus ada yg gw lakukan! Dan gw memilih nulis blog sebagai awal penyembuhan BeTe gw. BeTe kayak gini harus segera disingkirkan!
Virus aneh di PC-ku
Udah beberapa hari ini PC-ku di kantor kena virus. Virusnya aneh, tiba-tiba aja di PC-ku muncul tulisan 'error.... bla bla bla' dan di bawahnya ada tulisan SEND - DON'T SEND... Setelah aku click DON'T SENT, PC-ku hang sebentar. That's all! Aku blm tau ada aplikasi yg rusak atau tidak. Yang pasti tiap aku mau nyalain winamp aku harus install speaker driver-nya (something like that... apa ya namanya?) baru tuh winamp mau bunyi....
Virus aneh ini kayaknya muncul dari file sharing. Entah PC mana yang kena virus. Yang pasti kalo kita buka file2 sharing tersebut otomatis PC kita juga kena. Katanya PC-ku termasuk lumayan, karena PC lain yang kena virus ini gak cuma hang, tapi mati mendadak. So, kalo ada data yang belum di-save ... ya... ulang lagi, bo! Tabah... tabah... :)
Virus aneh ini kayaknya muncul dari file sharing. Entah PC mana yang kena virus. Yang pasti kalo kita buka file2 sharing tersebut otomatis PC kita juga kena. Katanya PC-ku termasuk lumayan, karena PC lain yang kena virus ini gak cuma hang, tapi mati mendadak. So, kalo ada data yang belum di-save ... ya... ulang lagi, bo! Tabah... tabah... :)
Monday, August 14, 2006
Day After Day
This is such a weird thing, day after day..........
aku mulai meragukan apa yang selama ini aku yakini
seakan lupa bagaimana dulu aku begitu menginginkannya
aku yang aneh
mungkin
aku tidak berterima kasih
bisa jadi
malam tidak pernah berhenti menghantuiku..............
aku mulai meragukan apa yang selama ini aku yakini
seakan lupa bagaimana dulu aku begitu menginginkannya
aku yang aneh
mungkin
aku tidak berterima kasih
bisa jadi
malam tidak pernah berhenti menghantuiku..............
Saturday, August 12, 2006
3 Hari di Wonosobo
Hari Rabu - Jum'at (9 - 11 Agustus 2006) aku berkesempatan mengunjungi kota Wonosobo. Sebenarnya ini tugas dari kantor, tapi karena memungkinkan, aku ajak suami ikut serta.
Pertama kali datang ke kota ini, driver yang mengantar kami mengajak makan makanan khas wonosobo, yaitu mie ongklok. Makanan ini berupa mie kuning diberi sayur-sayuran dan berkuah kental. Makannya ditemani dengan beberapa tusuk sate sapi.
Selesai makan, kami menuju hotel. Kami menginap di sebuah hotel yang katanya paling besar di sana. Begitu memasuki, rasa nyaman mulai terasa. Hotel itu bergaya belanda, dan lebih menyerupai rumah besar dari pada sebuah hotel. Interiornya terbuat dari kayu, dan banyak lukisan terpajang di sana-sini.
Kota Wonosobo berhawa sejuk. Sebenarnya dingin lebih tepat, sih :). Saking dinginnya tengah hari bolong-pun aku kadang masih harus mengenakan jaket.
Malam hari-nya, aku dan suami berniat jalan-jalan di sekitar hotel. Begitu keluar dari hotel, kami tertegun, suasana benar-benar sepi. Hampir tidak ada orang ataupun kendaraaan yang lewat. Tapi kami tidak mengurungkan niat untuk jalan-jalan, karena kami ingat, sebelum menuju hotel kami sempat melewati sebuah alun-alun. Ke sanalah tujuan kami. Biasanya alun-alun selalu ramai walaupun malam hari.
Sesampainya di alun-alun, kami kembali tertegun, tidak ada seorangpun di sana apalagi orang berjualan. Aku dan suami cuma bisa tertawa terbahak-bahak. Akhirnya jalan-jalannya bukan hanya di sekitar hotel, tapi jadi bener-bener jauh.... Dari pada laper... hehehe
Hari Jum'at sore, aku bersiap-siap untuk kembali ke yogya. Sebelumnya aku sempat pesan oleh-oleh CARICA. Carica adalah sejenis manisan terbuat dari buah pepaya, yang dihidangkan dalam syrup manis. Enak deh pokoknya... sluurrpppp....
Sayangnya, karena memang sedang ada tugas dari kantor, kami tidak sempat mengunjungi Dieng. Mudah-mudahan kalau kapan-kapan ke Wonosobo lagi, aku bisa jalan-jalan ke Dieng juga. Mudah-mudahan.....
Pertama kali datang ke kota ini, driver yang mengantar kami mengajak makan makanan khas wonosobo, yaitu mie ongklok. Makanan ini berupa mie kuning diberi sayur-sayuran dan berkuah kental. Makannya ditemani dengan beberapa tusuk sate sapi.
Selesai makan, kami menuju hotel. Kami menginap di sebuah hotel yang katanya paling besar di sana. Begitu memasuki, rasa nyaman mulai terasa. Hotel itu bergaya belanda, dan lebih menyerupai rumah besar dari pada sebuah hotel. Interiornya terbuat dari kayu, dan banyak lukisan terpajang di sana-sini.
Kota Wonosobo berhawa sejuk. Sebenarnya dingin lebih tepat, sih :). Saking dinginnya tengah hari bolong-pun aku kadang masih harus mengenakan jaket.
Malam hari-nya, aku dan suami berniat jalan-jalan di sekitar hotel. Begitu keluar dari hotel, kami tertegun, suasana benar-benar sepi. Hampir tidak ada orang ataupun kendaraaan yang lewat. Tapi kami tidak mengurungkan niat untuk jalan-jalan, karena kami ingat, sebelum menuju hotel kami sempat melewati sebuah alun-alun. Ke sanalah tujuan kami. Biasanya alun-alun selalu ramai walaupun malam hari.
Sesampainya di alun-alun, kami kembali tertegun, tidak ada seorangpun di sana apalagi orang berjualan. Aku dan suami cuma bisa tertawa terbahak-bahak. Akhirnya jalan-jalannya bukan hanya di sekitar hotel, tapi jadi bener-bener jauh.... Dari pada laper... hehehe
Hari Jum'at sore, aku bersiap-siap untuk kembali ke yogya. Sebelumnya aku sempat pesan oleh-oleh CARICA. Carica adalah sejenis manisan terbuat dari buah pepaya, yang dihidangkan dalam syrup manis. Enak deh pokoknya... sluurrpppp....
Sayangnya, karena memang sedang ada tugas dari kantor, kami tidak sempat mengunjungi Dieng. Mudah-mudahan kalau kapan-kapan ke Wonosobo lagi, aku bisa jalan-jalan ke Dieng juga. Mudah-mudahan.....
Monday, July 31, 2006
Cerita menyesakkan yang akhirnya bisa indah juga
Tuhan sedang mengujiku dengan sesuatu yang benar-benar menyesakkan. Setiap ingat masalah itu, fikiran-fikiran jelek menyerangku. Aku tidak bisa tidur, tidak enak makan, dan akhirnya menangis.
Yang mengalaminya tidak hanya aku. Beberapa teman ikut merasakannya. Ketika aku berhadapan dengan teman-teman senasib, aku berusaha memberi semangat pada mereka. Dan mengajak mereka tetap berpasrah diri pada Allah SWT. Tapi ketika aku sendirian, aku menangis sampai dadaku sesak.
Dalam kesesakan yang menyiksa itu, tiba-tiba ada hal kecil yang membuat aku akhirnya tertawa senang. Ceritanya, hari jum’at siang ada meeting koordinasi intern dengan manajerku, dan di sela-sela meeting itu, manajerku membagikan flash disk. Sebuah benda kecil yang sudah lama aku idam-idamkan. Selama ini aku biasanya hanya pinjam milik suamiku atau pinjam teman. Akhirnya aku punya juga dan gratis pula. Alhamdulillah.
Kejadian kecil itu membuat aku sadar, bahwa sebenarnya hatiku mudah di-entertaint (hehe). Dan aku akhirnya memutuskan untuk mengumpulkan ingatan-ingatan tentang berbagai hal kecil yang bisa membuatku tertawa senang. Seperti misalnya :
- suatu pagi aku sudah siap berangkat ke kantor, tiba-tiba temanku menelpon mau pinjam baju seragamku, karena dia salah kostum. Hari itu harusnya pakai seragam warna orange, dan temanku pakainya yang kuning. Padahal aku lebih parah lagi, aku pakai seragam yang hijau! Hehe… aku langsung ganti baju. Dalam hati aku bersyukur, untung temanku telp, jadi aku malah gak saltum… kekekkeeeee
- ada juga kejadian waktu aku hendak menghadap manajerku untuk melaporkan sesuatu. Aku baru bilang “mas aku mau…” manajerku langsung angkat tangan, dan bilang “bentar bentar…” aku akhirnya diam. Aku pikir manajerku mungkin sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Sambil menunggu, aku melirik apa yang dia lakukan. Aku mengerutkan kening, heran, manajerku malah buka-buka MP3. Tak lama kemudian dia bilang “Coba lu dengerin ini deh, Da. Keren banget….” Alunan musik jazz kemudian terdengar dari perangkat audionya. “Ini namanya jazz tombo ati, da” aku tertawa… kirain apaan …. Setelah mengirimi lagu2 itu ke emailku, baru manajerku bilang “ada pa, da?” Hueheheheeee…. Manajer yang lucu… aku seneng bahwa manajerku ini tau aku suka banget denger musik.
Banyak lagi deh. Dan ternyata memang banyak hal-hal yang menyenangkan terjadi di sekitarku.
Aku akan selalu ingat, entah kata-kata siapa, dan entah bagaimana tepatnya kata-kata itu, tapi intinya adalah: kualitas hidup manusia dihitung dari seberapa banyak dia bangkit dari keterpurukan. Manusia yang berhasil bukan manusia yang tidak pernah gagal, tapi manusia yang berhasil bangkit dari kegagalan tersebut. Semoga aku menjadi salah satu dari manusia-manusia tersebut. Amin.
Yang mengalaminya tidak hanya aku. Beberapa teman ikut merasakannya. Ketika aku berhadapan dengan teman-teman senasib, aku berusaha memberi semangat pada mereka. Dan mengajak mereka tetap berpasrah diri pada Allah SWT. Tapi ketika aku sendirian, aku menangis sampai dadaku sesak.
Dalam kesesakan yang menyiksa itu, tiba-tiba ada hal kecil yang membuat aku akhirnya tertawa senang. Ceritanya, hari jum’at siang ada meeting koordinasi intern dengan manajerku, dan di sela-sela meeting itu, manajerku membagikan flash disk. Sebuah benda kecil yang sudah lama aku idam-idamkan. Selama ini aku biasanya hanya pinjam milik suamiku atau pinjam teman. Akhirnya aku punya juga dan gratis pula. Alhamdulillah.
Kejadian kecil itu membuat aku sadar, bahwa sebenarnya hatiku mudah di-entertaint (hehe). Dan aku akhirnya memutuskan untuk mengumpulkan ingatan-ingatan tentang berbagai hal kecil yang bisa membuatku tertawa senang. Seperti misalnya :
- suatu pagi aku sudah siap berangkat ke kantor, tiba-tiba temanku menelpon mau pinjam baju seragamku, karena dia salah kostum. Hari itu harusnya pakai seragam warna orange, dan temanku pakainya yang kuning. Padahal aku lebih parah lagi, aku pakai seragam yang hijau! Hehe… aku langsung ganti baju. Dalam hati aku bersyukur, untung temanku telp, jadi aku malah gak saltum… kekekkeeeee
- ada juga kejadian waktu aku hendak menghadap manajerku untuk melaporkan sesuatu. Aku baru bilang “mas aku mau…” manajerku langsung angkat tangan, dan bilang “bentar bentar…” aku akhirnya diam. Aku pikir manajerku mungkin sedang sibuk mengerjakan sesuatu. Sambil menunggu, aku melirik apa yang dia lakukan. Aku mengerutkan kening, heran, manajerku malah buka-buka MP3. Tak lama kemudian dia bilang “Coba lu dengerin ini deh, Da. Keren banget….” Alunan musik jazz kemudian terdengar dari perangkat audionya. “Ini namanya jazz tombo ati, da” aku tertawa… kirain apaan …. Setelah mengirimi lagu2 itu ke emailku, baru manajerku bilang “ada pa, da?” Hueheheheeee…. Manajer yang lucu… aku seneng bahwa manajerku ini tau aku suka banget denger musik.
Banyak lagi deh. Dan ternyata memang banyak hal-hal yang menyenangkan terjadi di sekitarku.
Aku akan selalu ingat, entah kata-kata siapa, dan entah bagaimana tepatnya kata-kata itu, tapi intinya adalah: kualitas hidup manusia dihitung dari seberapa banyak dia bangkit dari keterpurukan. Manusia yang berhasil bukan manusia yang tidak pernah gagal, tapi manusia yang berhasil bangkit dari kegagalan tersebut. Semoga aku menjadi salah satu dari manusia-manusia tersebut. Amin.
Friday, July 14, 2006
Kenangan nonton bareng final piala dunia 2006
Acara nonton bareng final piala dunia 2006, diadakan di Kantorku yang baru di Condong Catur. Selain teman-teman kantor, dealer-dealer mitra kami-pun diundang, serta masyarakat sekitar.Aku bukan penggemar berat sepakbola. Apalagi aku sejak awal menjagokan Inggris (hiks). Tapi aku ingat betapa ngototnya aku untuk bisa datang ke acara itu. Padahal Minggu siangnya aku harus menjadi trainer di sebuah acara gathering, mulai dari jam 8.30 - 18.00.
Jam 8 malam, aku paksakan diri untuk tidur.
Kira-kira jam 00.30 alarmku berbunyi. Ngantuknya bukan main. Tapi aku tetap berusaha untuk bangun. Suamiku sampai bilang 'kalo masih capek nonton di rumah aja deh'. Aku menolak. Aku katakan pada suamiku, piala dunia 2010, belum tentu kita bisa keluar untuk nonton bareng kayak gini lagi. Siapa tau 2010, anak-anakku sudah lahir dan repot banget kalo harus ngajak mereka keluar dini hari cuma untuk nonton 2 kesebelasan ngerebutin 1 bola. Hueheheheeee.
Biarpun jagoanku kalah, kenangan nonton bareng itu tidak akan pernah terlupakan. Dan yang pasti, seandainya 2010 aku sudah tidak sempat lagi ikutan acara nonton bareng, aku gak akan penasaran lagi. Udah pernah sih.... heheheheee
Subscribe to:
Posts (Atom)

